Suatu siang di Bukit Timah Road
Bagunan besar bercat putih di kawasan elite Bukit Timah Road, Singapura, itu terlihat sepi dari luar. Halaman yang luas dipenuhi aneka tanaman bunga dan pohon rindang. Gaya klasik Melayu dengan beranda yang lebar tampak menonjol pada bangunan ini. Layaknya rumah orang terpandang, ada sebuah pos satpam --yang sama kasiknya dengan rumah induk-- dibalik pintu gerbang besi hitam.

Tak sulit mencari rumah bernomor 729 itu. Seseorang sopir taksi bernama Jimmy langsung tahu dimana rumah yang dimaksud. "Ooh, itu bekas tempat tinggal Goh Tjok Tong," katanya penuh semangat.

Dengan sigap Jimmy langsung mengarahkan taksinya menuju kawasan berbukit yang mirip daerah antara Jalan Sultan Sjahrir dan Moh. Yamin di Menteng, Jakarta Pusat, yang dipisahkan oleh kali kecil itu.

Rumah mantan Perdana Menteri Singapura itu kini sudah berganti penguni. Si empunya rumah sekarang adalah Putera Samporna, 58 tahun, komisaris utama perusahaan rokok raksasa PT. HM Sampoerna, yang baru saja mengegerkan dunia bisnis Indonesia. Keluarga Sampoerna menjual sebanyak 40 persen kepemilikannya di PT. HM Sampoerna Tbk. kepada Philip Morris International Inc.

Dengan menjual pada harga premium Rp. 10.600 per lembar saham, keluarga Sampoerna bakal menerima sekitar US$ 2 miliar (kira-kira Rp. 18,6 triliun). Jumlah ini hampir setara dengan dana subsidi bahan bakar minyak dalam UU APBN 2005, Rp. 19 triliun.

Dengan pemasukan baru itu, Putera disebut-sebut bakal menjadi orang terkaya nomor satu di Indonesia. Bukan hal yang mustahil, mengingat pada tahun 2001 saja majalah Forbes menempatkan pria dari generasi ketiga keluarga Liem Seng Tee (pendiri HM Sampoerna) itu pada nomor 387 dari 500 orang terkaya di dunia.

Menurut Forbes waktu itu, kekayaan Putera mencapai US$ 1.3 miliar. Dengan kurs Rp. 10 ribu per dollar pada 2001, itu berarti nilai kekayaannya sekitar Rp. 13,5 triliun.

Tak urung, Putera dan anaknya, Michael Sampoerna (Presiden Direktur HM Sampoerna), menjadi tokoh yang paling dicari media sepanjang minggu ini. Banyak yang ingin tahu kenapa mereka melepas perusahaan keluarga yang sudah dirintis sejak 92 tahun yang lalu itu. Termasuk Tempo.

Di pintu gerbang rumahnya, Tempo disambut seorang anggota satpam yang mengaku bernama Ling Hii Miew. "Harus saya tanyakan dulu, dia ada atau tidak," kata Ling dengan ramah ketika Tempo menanyakan apakah majikannya ada di rumah. Ia lalu berlalu kedalam seraya membawa secarik kartu nama yang disodorkan Tempo.

Setelah cukup lama ditunggu, Ling keluar dan memberitahukan bahwa Putera sedang tak ada di rumah. Dia pun mengaku tidak tahu di mana sang pemilik perusahaan roko Sampoerna itu berada. "Telepon saja dulu," ujar Ling, lagi-lagi dengan wajah penuh senyum.

Ternyata tak gampang menghubungi telepon Putera di Singapura. Jawabannya selalu berbunyi "tulalit". Dari kantor penerangan telepon Singapura pun diketahui bahwa alamat dan telepon rumah tersebut tidak terdaftar. Mungkinkah lantaran dulu rumah itu milik mantan Perdana Menteri Singapura ?
sumber:
anne I handayani
Koran Tempo, Sabtu, 19 maret 2005


© oesoep835


About me ..? || Lee_nux79 banget !! || Sekapur (tanpa) Sirih || Untuk Sahabat (baru) || Kata Mereka || Oooopps i did it !! || intip kamar oesoep835 || Click n' Win !! || Teladan Sempurna || House Of Sampoerna || Parade Iklan [ part I ] || Parade Iklan [ part II ] || Suatu siang di Bukit Timah Road || Berakhir Tanpa Basa Basi || Ketika Pabrik Rokok Itu Berpindah Tangan

 
Blogdrive      Site Meter