Ketika Pabrik Rokok Itu Berpindah Tangan
Kegalauan sedang membekap hati Fahrozi, karyawan PT. HM Sampoerna Tbk. yang bekerja di divisi proyek, dua pekan terakhir ini. Pasalnya, sejak pertengahan Maret lalu para sejawatnya di pabrik rokok itu sedang kasak-kusuk membahas sebuah isu yang besar.

Inti dari isu tersebutn mengatakan bahwa tak lama lagi PT. HM Sampoerna akan melakukan rasionalisasi karyawan setelah 40 persen sahamnya dikuasai oleh Philip Morris International Inc. "Teman-teman sedang resah. Tapi kalau memang kenyataannya begitu saya cuma pasrah," kata Fahrozi yang menjadi karyawan perusahaan itu sejak 1993.

Indikasi ke arah sana, kata Fahrozi mulai dirasakan para pekerja pabrik setahun belakangan ini. Menurut dia, banyak mobil operasional perusahaan yang dijual. Sebagai gantinya, kata dia, Sampoerna menyewanya dari pihak lain. Tanda-tanda lain, beberapa karyawan senior dipensiunkan dan digantikan tenaga kontrak.

Fahrozi yang sejak menjadi karyawan Sampoerna bekerja di posisi sopir turut merasakan itu. "Dulu saya megang mobil Panter milik Sampoerna. Tapi sekarang yang saya pegang ini mobil sewaan," ujarnya kepada Tempo awal pekan lalu di rumahnya di kawasan Semampir Selatan, Surabaya.
Kekhawatiran pria 52 tahun itu beralasan. Selama ini, Sampoerna baginya merupakan perusahaan yang selalu memenuhi hak-hak karyawan. Kendati di perusahaan rokok kretek tersbesar di Indonesia itu posisi Fahrozi hanya sebagai orang kecil, penghasilan yang ia terima dianggapnya cukup layak. "Dari gaji yang saya tabung, dua tahun lalu saya bisa menunaikan ibadah haji bersama istri," ujarnya

Bapak dua anak ini belum tahu bagaimana nasibnya setelah perusahaan itu berganti boa. Akuisisi saham Sampoerna oleh Philip Morris pun ia dengar secara mendadak, yakni saat dirinya sedang mendengarkan radio Suara Surabaya. "Katanya, kalau ikut orang asing itu lebih enak. Tapi, ya tidak tahu lagi. Mendengar nama Philip Morris, ya baru-baru ini saja," kata dia.

Berbeda dengan Fahrozi, Yanti, buruh di bagian linting, memilih bersikap cuek. Perempuan yang telah 17 tahun bekerja di pabrik rokok itu tidak yakin akan ada rasinalisasi karyawan. Alasannya, Sampoerna adalah pabrik besar yang keuangannya selalu sehat. "Kalau perusahaan ini untung terus, kenapa harus mem-PHK karyawan ?" kata Yanti sambil terus melinting batang-batabg rokok kretek Dji Sam Soe dengen peralatan manual di House of Sampoerna di kawasan Jembatan Merah, dibelakang penjara Kalisosok, Surabaya.

Namun, sama seperti Fahrozi, Yanti mengaku baru mendengar nama Philip Morris dari siaran televisi dan melihat koran. Hanya, "Saya bangga pabrik ini menjadi pembicaraan para pejabat penting," kata dia seraya menyebut kebanggan itu sama besarnya dengan bisa bekerja bertahun-tahun di pabrik ini.

Kebanggan menjadi karyawan perusahaan itu juga diutarakan oleh Gunawan Sutandi. Karyawan bagian grader (tukang cium tembakau) yang mulai bekerja sejak 1983 ini merasa telah mendapatkan segalanya dari Sampeorna. Selain gaji yang didapat termasuk lumayan, pabrik itu memfasilitasi dirinya untuk selalu meningkatkan kemampuan, misalnya memberi pelatihan dan seminar. "Kalau sudah bekerja di Sampoerna rasanya tidak ada alasan untuk keluar," ujarnya.

Yudhi Prasetyanto, rekan Gunawan, merasakan hal sama. Menurut dia, Sampoerna selalu memperhatikan talenta karyawannya. Yudhi yang dulu bekerja di bagian foreman (mador) akhirnya ditarik ke bagian grader karena dianggap punya indra penciuman yang bagus. Kini, ia menjadi senior grader yang tugasnya mencium tembakau 30-50 ton (setara 300 bal) per hari. "Saya sangat menikmati bekerja di sini karena mendapat bimbingan hingga menjadi seperti ini," kata dia.

Head of Public Relation PT. HM Sampoerna, Yudi Rizard Hakim, menilai kebanggaan karyawan dan buruh pabrik tempatnya bekerja adalah hal wajar. Selain karena gaji yang umumnya diatas rata-rata perusahaan lain, di sisi lain karyawan yang sudah pensiun ternyata masih tetap dibutuhkan tenaganya. "Contohnya, kalau ada grader yang pensiun, masih banyak perusahaan rokok yang ingin mengambil mereka," kata dia.


sumber:
Kukuh s wibowo
Koran Tempo, Senin, 28 Maret 2005


© oesoep835


About me ..? || Lee_nux79 banget !! || Sekapur (tanpa) Sirih || Untuk Sahabat (baru) || Kata Mereka || Oooopps i did it !! || intip kamar oesoep835 || Click n' Win !! || Teladan Sempurna || House Of Sampoerna || Parade Iklan [ part I ] || Parade Iklan [ part II ] || Suatu siang di Bukit Timah Road || Berakhir Tanpa Basa Basi || Ketika Pabrik Rokok Itu Berpindah Tangan

 
Blogdrive      Site Meter