House of Sampoerna
Meski sudah berusia 110 tahun lebih, gedung itu masih kokoh berdiri. Didirikan tahun 1893, kekunoan gedung itu nampak artistik dengan empat tiang besar yang menopang terasnya. Ke empat tiang besar itu dibentuk menyerupai batang rokok Dji Sam Soe. Di gedung tua dua lantai tak jauh dari penjara Kalisosok Surabaya itulahimperium bisnis perusahaan rokok PT. Sampoerna mulai dirintis sejak tahun 1932 oleh sepasang suami isteri, Liem Seng Tee dan Siem Tjiang Nio. Beragam pernak-pernik koleksi serta jejak perjalanan panjang imigran asal Desa Anhui, Provinsi Fujian, Cina dalam membangun bisnisnya itu kini bisa dinikmati didalam gedung tua yang sejak 1 September 2003 lalu dijadikan museum bersamaan dengan ulang tahun PT Sampoerna ke - 90. Selain museum, di hari yang sama turut dilauching pula café, art gallery dan marcandise shop.

Keempat obyek itu lalu dinamakan House of Sampoerna (HoS) karena terletak di satu kompleks dengan pabrik rokok merek Dji Sam Soe produk PT Sampoerna yang menempati di atas tanah seluas 1 hektar. Bagian belakang dari kompleks itu tetap digunakan untuk memproduksi rokok kretek Dji Sam Soe. Sekitar 3 ribuan karyawan menghasilkan volume produksi 4 ribu per orang per hari.

Dari ke-empat obyek itu, yang paling menarik perhatian ialah museum. Terdiri dari tiga ruangan, sebuah miniatur warung kaki lima dari bambu dan ber-atap welit (daun tebu) menghiasi bagian depan museum itu. Konon sewaktu masih melarat, Liem Seng Tee dan Siem Tjiang Nio menjual rokok buatannya sendiri di warung kaki lima seperti yang tergambar dalam miniatur tersebut. Bahkan menurut cerita, Ny. Liem Seng Tee sering menyimpan uang hasil jualan rokok itu di dalam bambu warung itu dengan maksud untuk mengelabui penjahat.

Berdampingan dengan miniatur warung kaki lima itu, tepatnya di sudut ruang sebelah kanan, dua buah sepeda pancal merek Flying Pigoen dan Rambler diletakkan dalam poisi berjajar. Inilah sepeda yang digunakan Liem Seng Tee untuk menjual rokok secara berkeliling pada tahun 20-an. Pernak-pernik lain yang mempunyai nilai historis tinggi ialah tiga stel kebaya dan pakaian milik Siem Tjiang Nio yang masih terawat dengan baik.

Beberapa furniture model kuno milik Liem Seng Tee, seperti meja, kursi, almari, bufet serta beberapa buku lawas juga dipajang di ruang depan musium itu. Ruang tengah musium hanya diisi dua kotak kaca dan sebuah almari. Dua kotak kaca itu berisi koleksi puluhan bungkus korek api tahun 40 an milik seorang pemuda Belanda yang disumbangkan kepada Sampoerna.

Dua buah peninggalan Liem Seng Tee, masing-masing sebuah dokar dan sebuah sepeda motor merek Java buatan tahun 20 an dipajang di ruang belakang. Selain dua sarana transportasi itu, Liem juga memiliki dua buah mobil kuno jenis rolroyce dan packard. Kedua mobil itu diletakkan di luar musium dan selalu menjadi tontonan pengunjung.

Selain koleksi benda-benda antik milik pribadi Liem, museum itu juga memamerkan alat pembuat rokok dan mesin pencetak bungkus rokok merek "Original" yang masih serba tradisional. Beberapa alat untuk mengecap bungkus rokok pruduk Sampoerna (bentuknya mirip stempel dari logam sebesar telapak tangan orang dewasa) juga dipajang di musium itu. Bahkan ada sebuah almari khusus yang memamerkan puluhan jenis produk rokok kretek Sampoerna dari masa ke masa.

Sebuah almari lagi dikhusukan untuk memajang pernak-pernik benda-benda antik yang berhubungan dengan rokok. Diantaranya kotak kecil tempat menaruh rokok (brown shark skin and ivory bound box) buatan tahun 1880, pemantik api (guin netal vesta) buatan tahun 1927, botol kecil tempat menaruh batang-batang korek api (clear glass macth stiker buatan tahun 1920) dan asbak (sliver clip on asthtray).

Bukan hanya benda-benda "bersejarah" saja yang ditampilan dalam musium. Pengelola House of Sampoerna juga memajang contoh aneka jenis tembakau dan cengkeh dari dalam dan luar negeri. Diantaranya dari Zanzibar, Kuba, Madagaskar dan beberapa lainya dari beberapa daerah di Indonesia. Tak heran bila selama di dalam musium para pengunjung juga menghirup harumnya aroma cengkeh dan tembakau.

Menurut Head House of Sampoerna, Yuyun Candra, tidak ada makna filosofis dalam menentukan tata letak dan pencahayaan museum. Pengaturan tata letak serta benda-benda apa saja yang harus dimasukkan ke museum, semua itu murni dari keinginan Ny. Ketty Sampoerna (isteri Putra Sampoerna) dibantu oleh dua orang ahli desain interior bernama Fred John (orang Amerika) dan Raimond (Indonesia)."Secara khusus tidak ada pertimbangan filosofi dalam menentukan tata letak selain semata-mata pertimbangan estetika saja," kata Yuyun.

Bila kita naik ke lantai dua melalui tangga di sisi kanan dan kiri ruang belakang, pengunjung akan melihat dari dekat beberapa karyawan sedang melinting rokok kretek dengan tangannya. Dari lantai dua itu pengunjung bisa menyaksikan aktifitas ribuan karyawan lainnya yang berada ruang di bawah.

Sejatinya sebelum difungsikan sebagai musium, gedung tua tersebut menyimpan sejarah panjang perjalanan bisnis Lee. Sebelum dibeli Liem pada tahun 1932,  komples gedung-gedung tua itu adalah sebuah panti asuhan yang dikelola oleh orang Belanda. Khusus bangunan yang sekarang dijadikan musium, dulunya ialah bekas gedung bioskop yang terkenal pada zamannya.
Lantai dua dari gedung itu sebagai tempat duduk penonton kelas VIP.

Dan ruang di bawahnya yang kini dipakai untuk aktifitas produksi, dulunya adalah tempat duduk penonton kelas ekonomi. "Menurut catatan, Charli Chaplin (aktor film komedi) pun pernah nonton film di sini pada tahun 30 an," kata Chief Officer House of Sampoerna, Albert Wibisono. Namun sejak tahun 60 an, fungsi gedung bioskop diubah menjadi tempat produksi. Bagian depan dipakai untuk kantor marketing sebelum akhirnya difungsikan sebagai musium seperti sekarang.

Selain museum, tempat lain yang sering dikunjungi tamu-tamu ialah café. Terletak di sebelah kanan musium, dulunya bangunan itu ialah rumah tinggal Adi Sampoerna (anak pertama Liem). Sebelum menjadi café bangunan itu digunakan sebagai kantor produksi rokok. Setelah difungsikan menjadi café beberepa bagiannya dipermak. Misalnya, di ruang tengahnya digunakan untuk mini bar. Sementara ruang belakang dipakai untuk pertunjukkan musik saban Sabtu malam. Sebuah ruangan yang terletak sisi kiri di teras rumah tersebut kini difungsikan menjadi marcandise shop yang menjual baju, kaos, tas, arloji, block note, dompet, mug dll dengan logo Sampoerna.

Meski demikian secara keseluruhan model bangunan café tetap mempertahankan keasliannya. Saat Koran Tempo melihat-lihat isi café, beberapa orang tengah menikmati seduhan kopi sambil berbincang dengan santai. Umumnya pengunjung café tersebut adalah orang-orang yang baru kembali dari melihat-lihat museum. "Tidak sedikit pejabat maupun pebisnis yang mengadakan rapat di café ini," ujar Yuyun Candra.

Menurutnya, saat ide pembuatan café ini dimunculkan sekitar dua tahun yang lalu, banyak keluarga Sampoerna yang pesimis. Alasanya, karena letaknya jauh dari jalan besar dan lingkungan PT. Sampoerna sendiri bukan merupakan kawasan keramaian sehingga kalau malam hari selalu sepi. "Tapi sekarang coba anda kesini pas Sabtu malam. Anda pasti sulit masuk," kata Yuyun sambil tertawa.

Bagian lain dari House of Sampoerna ialah art gallery yang terletak di belakang café. Meski bangunannya lebih kecil, namun kesan artistik muncul manakala kita masuk ke dalamnya. Beragam lukisan yang berjumlah sekitar 30 buah dipajang di tembok dengan dukungan tata lampu agak temaram.

Masih menurut Yuyun, tak sedikit pengunjung House of Sampoerna dari kalangan uzur yang datang dengan kursi roda maupun tongkat di tangan. Kedatangan mereka bukan sekadar untuk melihat-lihat museum atau art gallery namun juga digunakan untuk nostalgia. Karena ternyata para orang tua ini dulunya mengaku pernah bekerja di PT. Sampoerna, menjadi suplayer, menjadi pengantar tembakau atau ada pula yang datang karena dulu pernah melihat filim di bioskop yang kini sudah jadi museum. ""Ada yang sampai menitikkan air mata karena teringat masa lalunya saat nonton film di sini bersama pacarnya yang kini telah tiada," ujar Yuyun.

Sebenarnya masih ada satu bangunan kuno lagi yang terletak di sebelah kanan museum. Namun bangunan yang dulunya bekas rumah Liem itu kini hanya difungsikan sebagai residen untuk menginap keluarga Sampoerna. Namun dari fisiknya, bangunan itu masih kokoh dan terawat. Di garasinya sebuah mobil kuno jenis roll royce diparkir dalam kondisi masih bersih dan mengkilap. "Bangunan itu hanya khusus untuk menginap keluarga Sampoerna," kata Jojo, guide museum.

Menurut Albert ide pembukaan House of Sampoerna berawal dari makin banyaknya masyarakat yang ingin mengetahui sejarah serta proses pembuatan rokok. Hampir tiap hari mereka datang ke manajemen hanya sekadar ingin mengetahui kisah sukses Liem. Dari situ muncul pemikiran untuk membuka museum di mana orang tidak perlu lagi bertanya ke manajemen. "Dengan melihat museum kami berharap segala pertanyaan yang memenuhi benak mereka akan terjawab," kata Albert.

Kini House of Sampoerna dikunjungi tak kurang dari 200 orang per hari. Mereka datang dari kota-kota di Indonesia maupun mancanegara. Selain itu tak sedikit juga pengunjung yang datang secara berombongan untuk study banding.

Memang, untuk membuat agar pemandangan lebih nyaman, pengelola House of Sampoerna merestorasi (mempertahankan yang ada dan membetulkan yang salah) beberapa bagian gedung. Misalnya dengan mengecat ulang tembok dan plafonnya, menambahi tata lampu dan membuat taman bunga di halaman. Selain itu saluran air yang dulunya belum saling berhubungan kini dibuat menyambung. "Tapi secara keseluruhan gedung-gedung ini masih asli dan tak pernah kami renovasi," ujar Yuyun.

Ia menambahkan untuk merawat gedung-gedung tua tersebut manajemen House of Sampoerna hanya melakukan perawatan secara umum (general cleaning). Namun ia mengakui bahwa dibutuhkan kehati-hatian dan ketelatenan agar asesoris gedung yang sudah berusia seabad lebih tersebut tetap utuh.  
"Perawatan kami lakukan rutin sehari-hari," imbuh Yuyun.

Kisah sukses PT Sampoerna bukan turun begitu saja dari langit. Namun melalui rintisan dari nol oleh seorang Liem Seng Tee, seorang imigran miskin asal Desa Anhui, Provinsi Fujian, Cina. Liem lahir pada 1893 dan sejak umur 5 tahun Lem sudah "terdampar" di Indonesia (dulu Hindia Belanda) bersama ayahnya. Namun tak lama setelah tiba di Indonesia ayah Liem meninggal.

Setelah hidup sebatang kara Liem akhirnya diangkat anak oleh seorang keluarga di Bojonegoro. Di kota kecil itu Liem belajar meracik tembakau yang memang banyak ditanam di sana. Hasil racikannya ia jual secara asongan di kereta api yang datang dari Surabaya. Ketika sudah beranjak dewasa Liem pergi ke Surabaya untuk mencari pekerjaan tetap. Di kota inilah dia bertemu dengan Siem Tjang Nio yang akhirnya dinikahinya.

Setelah menikan Liem dan isterinya membuka warung pracangan untuk menyambung hidupnya sehari-hari. Sambil membuka warung, Liem meneruskan keahliannya dalam meracik tembakau dan dijual. Racikan tembakau Liem ternyata banyak disukai oleh masyarakat maupun pejabat saat itu. Semua itu terjadi pada tahun 1913.

Setelah ekonomi keluarganya mulai jalan Liem membeli rumah di Jl. Ngaglik Surabaya untuk kemudian dijadikan home industri rokok kretek dan mempekerjakan beberapa karyawan. Tak banyak catatan pada periode ini, tapi yang jelas usaha Liem semakin maju dan menemukan pasarnya. Yang jelas sembilan tahun kemudian (1932) Liem berhasil membeli kompleks gedung panti asuhan dan gedung bioskop milik Belanda yang kemudian dijadikan pabrik rokok Dji Sam Soe. Nama Dji Sam Soe ini konon diambil dari jumlah pekerja pabrik pada awal produksi yakni 234 orang.

Meski sempat jatuh bangun, diantaranya pabrik rokok itu pernah terbakar, usaha Liem semakin berkibar dan merajai pangsa pasar rokok kretek nasional. Pada tahun 1956 Liem meninggal setelah sebelumnya mewariskan perusahaannya kepada Aga Sampoerna (anak nomor 2). Di tangan Aga PT Sampoerna semakin maju dan melebarkan pabriknya ke kawasan Rungkut Industri.

Dari tangan Aga PT Sampoerna kemudian diwariskan kepada anaknya yang ke-2 yakni Putra Sampoerna. Setelah Putra lengser, usaha yang sudah sukses itu kemudian diberikan kepada anaknya yang nomor 4, yakni Michel Sampoerna.  Sampai sekarang PT Sampoerna telah dipegang oleh 4 generasi dan tetap mempertahankan ciri khasnya sebagai penghasil rokok kretek.


Koran Tempo / Kukuh_s

 


© oesoep835


About me ..? || Lee_nux79 banget !! || Sekapur (tanpa) Sirih || Untuk Sahabat (baru) || Kata Mereka || Oooopps i did it !! || intip kamar oesoep835 || Click n' Win !! || Teladan Sempurna || House Of Sampoerna || Parade Iklan [ part I ] || Parade Iklan [ part II ] || Suatu siang di Bukit Timah Road || Berakhir Tanpa Basa Basi || Ketika Pabrik Rokok Itu Berpindah Tangan

 
Blogdrive      Site Meter